Featured

Diterima di STIP Jakarta

Awas Calo!

Bagi kalian yang masih berpikiran kalau semua bisa dibeli pakai uang, tolong hati-hati atau setidaknya pikirkan sekali lagi. Takutnya, nanti kalian bisa berpikiran kalau untuk diterima di sekolah kedinasan, kita harus pakai calo.

Menurut pengalaman saya, untuk diterima di STIP Jakarta yang kita butuhkan adalah latihan dan berserah kepada Tuhan YME.

Karena, sekadar informasi, silakan koreksi kalau saya salah, bila kalian menggunakan calo, kalian harus membayarkan sejumlah uang kepada calo tersebut. Namun, jika ternyata kalian gagal, uangnya dikembalikan SETENGAH atau berapapun intinya tidak 100%, dan kalau kalaian diterima di STIP Jakarta, yah uangnya tidak dikembalikan. Artinya, kita berharap pada orang lain atas usaha kita sendiri. Calo gak rugi, kita yang rugi.

Masuk STIP Jakarta

Sama seperti taruna yang lain, saya bangga bisa menjadi taruna STIP Jakarta. “Enaknya” baru ketemu sekarang. Dari tingkat I dicari-cari gak ketemu hehehe.

Saat postingan ini dibuat, saya adalah taruna semester akhir Program Studi Nautika di STIP Jakarta menjabat Steering Committee pada English Team dan English Committee pada Staf Resimen Taruna STIP Jakarta. Saat ini sedang menikmati libur panjang (libur lebaran), Puji Tuhan penyusunan skripsi sudah selesai jadi agak sedikit leluasa untuk memaksimalkan liburan kali ini. Salah satu cara memaksimalkannya yah dengan membuat tulisan ini.

Berikut awal cerita saya menjadi taruna STIP Jakarta.

Berawal dari perbincangan santai di kelas X-1 SMAK Penabur Harapan Indah

“Kap, nanti mau lanjut kuliah dimana?” Tanya saya kepada teman sebangku saya kala itu.

“Gua rencana sih STIP Jakarta, Mel.” Jawab Kapitan.

“Oh. Gue juga tuh.” Kemudian timpal saya.

Bermula dari ikut-ikutan teman, akhirnya saya memutuskan menjadi seorang pelaut agar seperti Papa saya. Namun, ternyata Papa saya kala itu tidak mengizinkan saya untuk menjadi seorang pelaut. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di STPI Curug untuk menjadi penerbang sayap tetap.

Kegiatan saya setiap malam sebelum tidur adalah baca Alkitab setelah itu memandangi foto pesawat cessna dan foto bagian dalam kokpit pesawat sambil berkhayal menjadi pilot. Saya bangun pukul 4 pagi untuk jogging dan melakukan calisthenics exercise seperti push-up dan sit-up. Kemudian sore harinya saya melakukan lari 12 menit, sit-up, dan push-up mengacu pada tes kesamaptaan calon pilot yang saya baca di buku tes pilot yang saya beli.

Kemudian untuk persiapan tes akademik, yang saya lakukan adalah mengerjakan soal-soal tes pilot yang ada di buku tes pilot, soal-soal UN SMA 2015, dan mengerjakan soal-soal yang ada di brainly.co.id. Sama seperti persiapan tes akademik, untuk persiapan psikotes pun saya pelajari dari bukut tes pilot tersebut.

Sayangnya, tahun 2015 STPI Curug tidak membuka kelas untuk penerbang.

Untungya, Papa saya berubah pikiran kemudian memperbolehkan saya untuk mengikuti tes masuk STIP Jakarta.

Kala itu seleksi penerimaan dibagi kedalam lima tahap, yaitu:

  1. Administrasi
  2. Akademik
  3. Psikotes
  4. Kesehatan dan Kesamaptaan
  5. Wawancara

Pada tahap psikotes, saya baru berkesempatan bertemu dengan teman saya Kapitan. Namun sayang, Kapitan baru diterima setelah mengikuti kembali sipencatar 2016. Bagaimanapun, kami sama-sama taruna STIP Jakarta sekarang. Toh timeline orang beda-beda, kan?

Setelah tahapan demi tahapan seleksi penerimaan terlewati, tibalah saya pada tahap keempat.

Pada tes kesehatan, saya menemui banyak teman-teman baru, antara lain, Aldi Wira, Elang Raka, Samuel Ferdinan, Try Abdurahman, dll. Saya cukup yakin pada tahapan kali ini karena saya tidak ada masalah dengan pendengaran, gigi, tidak memakai kaca mata, tidak merokok, dan tidak minum alkohol.

Setelah melakukan tes kesehatan, hari berikutnya saya mengikuti tahap seleksi kesamaptaan.

Pertama yang dilakukan adalah pengukuran tensi darah. Bila tensi darah normal, baru diperbolehkan mengikuti tes kesamaptaan.

Tes pertama yang saya ikuti adalah lari 12 menit. Pada saat itu saya berpikiran untuk tidak terlalu memaksakan karena masih ada push-up, sit-up, dan shuttle run. Alhasil, saya berhasil finish di posisi ketiga, di posisi pertama adalah yang paling saya ingat, rekan saya Zulkifly Bangun yang pada saat itu baru saya kenal di seleksi akademik.

Untuk push-up dan sit-up saya dapat sebanyak 40 sampai 50-an saja, saya tidak ingat pasti.

Pada saat shuttle run, seorang instruktur yang bertugas sebagai time keeper menyemangati saya, bahkan menjagokan saya menjadi yang paling cepat pada saat itu.

“Ayo, kamu pasti bisa cepet, kamu kurus harusnya bisa cepet!” Kata seorang instruktur kepada saya.

“Iya, pak.” Kemudian saya membalas dengan yakin.

Puji Tuhan, saya menjadi yang tercepat pada saat itu dengan 16 detik shuttle run 3 putaran.

Tahapan demi tahapan telah berhasil lulus, tibalah pada tahap seleksi terakhir yakni wawancara.

Pada tahap wawancara, kami harus menentukan antara setuju atau tidak setuju bila harus dipindahkan dari program studi yang sudah kita pilih.

Setelah berdiskusi melalui handphone dengan Papa saya, saya memilih setuju bila memang harus dipindahkan ke program studi yang lain.

Tibalah giliran saya diwawancara. Kala itu saya diwawancarai oleh tiga perwira tinggi STIP Jakarta, padahal jika saya lihat yang lain hanya diwawancarai oleh satu orang saja. Tapi saya tetap percaya diri, karena sudah saya siapakan semuanya dari cara saya berdiri hingga dipersilakan duduk sampai ke materi yang bahkan saya siapkan menggunakan bahasa Inggris.

“Kamu sekolah di Penabur?” Tanya salah seorang perwira.

“Siap, pak.” Respon saya cepat.

“Ini yang sering ikut olimpiade nih pak.” Timpal salah seorang perwira ke perwira yang lainnya.

Lalu kemudian saya ditanya mengenai kinematika gerak. Puji Tuhan, saya berhasil menjawab dengan tepat walau harus saya ulang-ulang pengerjaannya karena takut salah.

Tibalah pada saat yang di tunggu tunggu.

Pengumunan hasil akhir seleksi wawancara direncanakan diumumkan pada malam hari. Namun, ternyata pada waktu saat itu website STIP Jakarta tidak bisa diakses. Dan baru pada dini hari, saya dibangunkan dengan bunyi notifikasi dari handphone saya. Itu adalah ucapan selamat dari teman saya Zulkifly Bangun.

Tidak percaya begitu saja, saya langsung mengakses web STIP Jakarta yang ternyata sudah dapat dibukan. Ctrl + F Melki. Puji Tuhan, nama saya tertera disana. Kemudian ada nama Zulkifly, Aldy, Elang, Samuel, Try, dll.

Hasil tahapan wawancara, banyak rekan-rekan yang dipindah dari program studi Nautika ke program studi Teknika dan Kalk. Tidak masalah, kini mereka sudah sukses di program studinya masing-masing.

Demikian postingan saya kali ini. Terima kasih telah membaca.

Bonus:

Image may contain: 2 people, people standing
Inaugurasi Calon Taruna bersama Mama
Image may contain: 13 people, including Doni Satria Ramadhan, people smiling, people standing
Wisuda 54 Gelombang ke-2 bersama Dormitory C Atas
Image may contain: 3 people, people smiling, people standing, sky, cloud, tree and outdoor
Depan Gedung Utama bersama Novi dan Jacksen
Image may contain: 9 people, including Vicky Freitas, people smiling
Paska Prala bersama Tim Anthony Veder
Image may contain: 7 people, people standing and outdoor
Selesai Apel Pagi bersama Kasmen dan English Team
Image may contain: 1 person, smiling, outdoor
Dinas Luar di Jogja

Advertisements